Minggu, 26 Februari 2012

Gua Kuno Pabrik Tenun Garut

Riwayat kejayaan PTG sudah lama selesai. Sejak tahun 1995 kegiatan operasional pabrik tenun itupun dihentikan. Bahkan pabrik tenun peninggalan Belanda itu, kini sudah hancur dibongkar habis, hingga rata dengan bumi. Dan kini diatas lahan bekas pabrik peninggalan Belanda yang bersejarah itu kini sudah berdiri sebuah bangunan mewah yang bernama Mal Garut.  Sebelum pembongkaran pabrik pada tahun 2005 tersebut dilakukan, orang tak banyak lagi terusik membincang keberadaan PTG. Namun awal bulan Agustus 2005 lalu, lokasi pabrik tenun yang pernah kondang dengan nama PBW pimpinan G Dalenord itu, kembali membangkitkan pusat perhatian dan perbincangan orang. Seketika saja warga Kota Garut tersentak. Heboh berguncang dari PTG !.


Tak lain, lantaran sebuah gua kuno peninggalan tempo doeloe, ditemukan di balik areal lokasi pabrik itu. Peristiwanya tergelar, saat bangunan pabrik tenun raksasa di Jalan Guntur, Garut itu tengah dihancur-leburkan. Sungguh terkesan laksana kisah dalam dongeng klasik di abad modern. Dikuatkan lagi dengan letak mulut gua di dalam ruangan produksi, yang tertutup kayu dan meja kerja. Hampir satu abad gua itu tersembunyi. Selama itu pula, keberadaan gua PTG tak pernah mengemuka! Luput dari penciuman orang, bagai rahasia panjang dibalik sejarah kemashuran PBW, yang jadi milik RI sejak tahun 1959. Tanggal 14 September 1964, pabrik tenun itu diserahkan ke Pemda Provinsi Jawa Barat, sekaligus berganti nama menjadi “PTG Ampera I”

sumber: beritagarut.wordpress.com
PTG ketika masih berjaya

Kenyataan nestapa kemudian terhampar, setelah pabrik tenun seluas 13,5 ha yang berganti nama PD “Kerta Paditex”, kelangsungan PTG dalam putaran tahun 1985, berlanjut menerbitkan masa suram. Bangunan PTG pun terlantar di kawasan jantung kota kabupaten ini, hingga bermuara pada penghancuran asset bangunan legendaris Garut itu. Tak banyak orang yang tahu, jika dibalik keberadaan dan kejayaan yang pernah dicapai PTG, tersimpan bentangan jalan terowongan bawah tanah atau yang lebih popular dengan sebutan gua. Heboh tentang gua PTG mengembangkan banyak Tanya untuk apa gua itu dibangun ? Benarkah jalan terowongan bawah tanah ? Terus kemana tembusnya ?

Belum seorang pun memberi kesaksian pasti, semua Tanya tentang gua itu, masih mengambang ibarat misteri. Bahkan mulut gua di areal reruntuhan pabrik itu, pernah diamankan dengan rentangan police-lane. Tindakan tersebut terpaksa dilakukan mengingat antusias masyarakat terhadap keberadaan gua tersebut sangat tinggi. Jika mereka diizinkan masuk ke dalam lorong tersebut, lantas siapa yang bertanggung jawab atas keselamatannya ? entah mengapa tindak pengamanan itu rapuh sehingga sejumlah orang berkelas semua umur bisa keluar masuk pada saat itu yang tengah berada pada suasana Ramadhan.


sumber: majalah Wahana Trans Edisi XIV tahun II Oktober_2005
PTG sebelum diratakan dengan tanah

Jalan Terowongan

Hingga saat ini, sayangnya tidak ada penelitian terhadap keberadaan gua tersebut. Sebuah gua kuno yang berada dalam kondisi masih utuh, walau berbalut kotor. Dari arah pintu gerbang PTG, gua itu berada di ruangan ukuran 7x15 meter. Tepat di bagian depan sebelah kiri. Pintu gua terletak di sudut ruangan., yang hampir membatas ke ruas lintasan Jalan Guntur. Dari mulut gua itu,. Orang bisa masuk ke bawah tanah, menuruni belasan anak tangga yang berbelok ke lorong utama, dan memanjang sekitar 40 meter. Lebar antar dinding gua yang diperkirakan sekitar 3 meter itu, terus menyempit hingga 1,25 meter. Tak ditemukan lampu penerang maupun ventilasi. Langit-langitnya setinggi 2,5 meter membentuk kubah, berhias sengkedan bernuansa artistik.

Lorong goa terbentang panjang. Bentangan lorong utamanya bercabang delapan lorong ke arah kanan sepanjang 7 meter, lebar 75 cm dan tinggi 2 meter. Keterangan yang berhasil dikumpulkan menyebutkan, lima dari delapan lorong itu, tersambung ke beberapa lorong lainnya. Pada lorong utama kedua, memiliki panjang 25 meter dengan tinggi dan lebar yang tak jauh berbeda dengan lorong utama yang pertama. Di sepanjang lorong gua, banyak ditemukan tumpukan plastic pembungkus kain tenun PTG, dan logo sarung Cap Padi sebagai merk dagang yang menjayakan nama pabrik tenun ini sejak dikenal bernama PBW.

sumber: majalah Wahana Trans Edisi XIV tahun II Oktober_2005
Proses penghancuran PTG

Namun sayang sekali, pihak pengembang yang menangani pembangunan Mal Garut itu, nampaknya tidak menaruh kepedulian untuk pelestarian gua. Dan kini pintu masuk menuju gua bawah tanah tersebut nampaknya sudah terkubur oleh bangunan megah bernama Mal Garut itu. Padahal, keberadaan gua kuno tersebut bisa menjadikan Mal tersebut sebagai wisata belanja dan juga wisata situs.

Gua di balik bekas lokasi PTG, sebenarnya jalan terowongan bawah tanah. Tapi sepanjang riwayat kelangsungan pabrik tenun yang pernah dijuluki raksasa Asia Tenggara di tahun 1962 itu, sedikit sekali orang dalam yang mengetahuinya. Kalaupun ada beberapa karyawan PTG yang mengaku mengenal gua itu sejak lama, namun mereka belum pernah boleh memasukinya.


sumber: majalah Wahana Trans Edisi XIV tahun II Oktober_2005
Ketika PTG sudah benar-benar rata dengan tanah

Siapa sangka, jika mulut gua itu bukan hanya di areal lokasi pabrik ? Ternyata di balik hamparan areal mess PTG, yang bersebrangan dengan pabrik tenun itu, tersimpan pula mulut gua lainnya. Seberapa besar kebenarannya ?  Simak saja ungkapan R Tata Ampera, putera bungsu dari mantan direktur pertama PTG, (alm) R Lomri. “Seingat saya, di rumah mess PTG itu ada sebuah kamar, yang tidak boleh sembarang orang masuk. Kamar itu seperti ruangan rahasia, yang hanya boleh dimasuki bapak saya…” kenang R Tata Ampera yang akrab di sapa Eeng.


Pengorbanan Bapak

14 September 1964 bukan hanya saat pelantikan direktur PTG. “Hari itu juga momentum penting kelahiran saya. Ibu saya bilang saya lahir subuh menjelang pagi itu bapak dilantik sebagai Direktur pertama PTG Ampera I…” ungkap Eeng sambil membuktikan KTP-nya. Benar disitu tertulis nama R tata Ampera dan tanggal kelahiran yang sama dengan saat pelantikan direktur pertama PTG Ampera I tersebut. Eeng mengaku orang tuanya btak banyak cerita soal keberadaan, dan kegunaan lorong bawah tanah di balik pabrik itu.

sumber: majalah Wahana Trans Edisi XIV tahun II Oktober_2005
Mulut Gua Kuno PTG 

Ia juga mengaku pernah beberapa kali diajak ayahnya memasuki kamar rahasia tersebut. “tapi itupun waktu saya masih kecil, dan belum sekolah! Saya memang ingat-ingat lupa… Di dalam kamar itu ada pintu ke bawah tanah. Saya dan bapak terus berjalan, hingga keluar menembus pabrik….” Samar membayang dalam kenangannya, Eeng dituntung ayahnya yang menyusuri jalan terowongan sambil menyalakan lampu senter. Dalam suasana malam, Eeng menyaksikan kesibukan tugas ayahnya mengontrol PTG, yang terkadang pulang larut malam. Cuma itu saja yang dilihat dan diingatnya.

“Orang tua saya bilang sih, jalan bawah tanah itu tembus juga ke Pendopo Garut dan Hotel Villa Dolce… Sayang, bapak saya sudah tiada, jadi saya pun tidak tahu pasti buat apa terowongan bawah tanah itu…”
Nestapa tentang nasib PTG terbentang lara yang 6 tahun kemudian berganti rupa menjadi sebuah Mal. Memang senasib dengan Hotel Villa Dolce di Jalan Melati yang konon tersambung lorong terowongan bawah tanah dari pabrik tenun itu. Kini sejarah kemashuran Villa Dolce tempo doeloe, yang bergengsi tinggi diantara Hotel papandayan maupun Grand Hotel “Tjisoeroepan” di Kecamatan Cisurupan, terbingkai ke dalam keemasan kepariwisataan Garut masa silam. Semua perhotelan yang jadi Asset Garoet Pangiroetan itu, porak poranda akibat dihantam kecamuk Perang Dunia II. Puing-puing lokasi Villa Dolce yang pernah tersekap kemeranaan panjang berselimut semak belukar itu, lalu berganti wajah menjadi Gedung Islamic Centre yang kini juga telah porak poranda, dihancurkan untuk sebuah kepentingan. Letaknya berada tepa di depan kantor Disperindag, Jalan Pramuka, Garut.


Sumber : foursquare.com
Bangunan yang menyebabkan PTG dihancurkan

Betapapun, masa kejayaan Villa Dolce dan jalan terowongan bawah tanah dari PBW, mengusik keterkaitan yang masih misteri. Akankah, suatu saat nanti jejak sejarah itu ditelusuri untuk memastikan kebenaran? Atau, harus terbiarkan karena kalah bersaing dengan kepentingan lain ? belum tuntas tentang keberadaan gua PTG, temuan lain pu  datang mengembang. Tak lain, lantaran lorong panjang bawah tanah itu membuka banyak simpang jalan yang misterius, yang selama ini tak pernah terungkap. Tanya-tanya itu akan berkepanjangan, hingga buntu terkubur perguliran masa. Ini kenyataan buruk yang sudah terjadi akibat pengembang Mall di areal bekas PTG, berpaling dari angan Pemda Garut. 

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Seperti Kata/ lirik dalam sebuah lagu nasional.....yang diplesetkan artinya ..Itulah Indonesia..hehhee, penghancuran Asset ex. kolonial/ bangunan kuno.. terjadi dimana-mana/ setiap kota, ya mungkin "kepentingan rakyat" lebih utama daripada sebuah asset sejarah wakakakaka........

Posting Komentar