Senin, 25 April 2011

Badeng


Kata bahadrang atau yang berubah menjadi badeng adalah salah satu kesenian tradisional khas Kabupaten Garut yang sering dipertunjukan hingga saat ini. Kesenian ini berasal dari Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut.

            Ceritanya, kesenian ini diciptakan oleh seorang ulama penyebar Islam yang bernama Arfaen Usaen yang berasal dari Banten dan kemudian terus mengembara hingga akhirnya menetap di Desa Sanding, Malangbong. Tokoh ini juga dikenal dengan nama Lurah Acok.
            Pada masa itu, ajaran islam masih sangat asing bagi kebanyakan penduduk. Kemudian Arfaen pun berfikir bagaimana cara menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat luas agar mudah diterima dan dipahami oleh masyarakat luas. Secara tidak sengaja, Arfaen menemukan seruas bambu yang kemudian dibawanya pulang. Kemudian ia membuat sebuah  alat yang bisa menghasilkan bunyi.
            Setelah itu, ia kemudian mengumpulkan para santri dan menyuruhnya untuk membuat benda serupa. Dan akhirnya terkumpulah alat-alat tersebut yang bisa menghasilkan bermacam-macam suara yang digunakan untuk mengiringi Shalawat dan Sunda Buhun.
            Kemudian Arfaen atau Lurah Acok mempopulerkannya ke sejumlah tempat sembari menyebarkan agama Islam. Sertiap kali ia berkeliling ke berbagai tempat, ia menampilkan keseniannya karyanya dan mengajak silaturahmi dengan siapa saja yang ia temui. Tujuannya adalah agar mereka yang ditemui oleh Arfaen atau yang diajak musyawarah oleh Arfaen memeluk sekaligus memahami agama Islam. Lalu lahirlah kata Bahadrang yang kemudian kata tersebur berubah menjadi kata badeng.
            Sampai saat ini, kesenian Badeng sering dipertunjukan dalam rangka menyambut tamu agung, peringatan mauled Nabi, acara khitanan dan sebagainya. Alat music yang digunakan dalam kesenian ini adalah roel (angklung kecil), angklung indung, angklung kecer, angklung kenclung, dan dogdog lojor.
            Sangat disayangkan regenerasi para pemain Badeng ini agak terhambat. Sehingga sangat wajar bila kebanyakan yang memainkan badeng ini adalah orang-orang yang sudah lanjut usia. Maka perlu dipikirkan bagaimanakah caranya agar kesenian ini bisa diwariskan pada generasi muda yang akan menentukan kelanjutan dari kesenian ini.

0 komentar:

Posting Komentar