Kamis, 14 April 2011

Serangan ulat bulu di Garut semakin berkurang

Populasi ulat bulu menyerang Desa Kertajaya, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, mulai berkurang, setelah upaya pemusnahan. Sebagian sudah menjadi kepompong dan kupu-kupu.


"Sudah berkurang populasinya menurun dan sekarang sudah mendekati kepompong," kata Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut, Tatang Hidayat, Rabu (13/4).

Meskipun populasinya sudah menurun, kata Tatang kemungkinan besar setelah menjadi kupu-kupu akan berkembang biak hingga kembali bermunculan ulat.

Ancaman kembalinya serangan ulat, Tatang memprediksi akan terjadi satu bulan kedepan apabila cuaca dingin atau lembab yang mendukung terjadinya perkawinan jenis hewan tersebut.

Bahkan ancaman berkembang biak ulat, menurut Tatang akan lebih tinggi dengan kondisi cuaca di Garut yang cenderung sering terjadi hujan dengan suhu lembab atau dingin.

"Kemungkinan nanti yang berbahaya itu satu bulan kedepan, nanti bertelur lagi kalau kondisi suhu memungkinakn untuk berkembang," kata Tatang.

Apabila kembali terjadi serangan ulat bulu di Desa Kertajaya, dijelaskan Tatang pihaknya yang telah menerjunkan petugas ke lapangan terus memantau perkembangannya termasuk dengan cara membakar ulat.

Sedangkan penanggulangan yang akan dilakukan nanti, kata Tatang akan memusnahkan dengan menyemprotkan pestisida terhadap ulat muda sehingga penyebarannya tidak meluas.

"Nanti bertelur kita semprot atau berbentuk ulat muda, karena kalau penyemprotan sekarang ini gak akan berhasil dimusnahkan kecuali dengan cara dibakar," katanya.

Selain menyerang Desa Kertajaya, kata Tatang ulat bulu ditemukan di Desa Banyuresmi, Kecamatan Banyuresmi, tumbuh di satu pohon Caringin dengan jumlah populasi tidak normal.

"Di Banyuresmi hanya satu pohon saja, dan ulat itu janya beraada di pohon itu dengan populasinya tinggi dibandingkan biasanya," katanya.

Sementara itu, serangan ulat bulu di Kabupaten Garut, menurut Tatang jenisnya berbeda dengan daerah lain, namun tingkat populasinya sama yang akan mengancam perkembangan lebih banyak.

Jenis ulat tersebut berdasarkan pemeriksaan bernama Dasychira Inclusa family lymantriidae ordo lapidoptera, kata Tatang akan berkembang tergantung kondisi cuaca.

"Kalau disini ulat biasa dengan populasinya akan lebih besar apabila cuaca dingin atau lembab," katanya.

0 komentar:

Posting Komentar