Kamis, 14 April 2011

Atjoem Kasoem

          Nama toko kacamata Kasoem sudah tidak asing lagi bagi telinga orang Garut dan orang Bandung. Biasanya toko kacamata Kasoem berlabel Kasoem Optical. Dulu Kasoem Optical tersebar dimana-mana, dan sangat akrab dengan telinga masyarakat, karena itu Kasoem Optical membuka ritel dimana-mana.
Tapi mungkin orang tidak banyak tahu siapa Kasoem sebenarnya.
          Kasoem adalah putra  kelahiran Kadungora Garut yang dilahirkan pada tanggal 9 Januari 1916 yang merupakan ahli optik pertama di Indonesia. Nama lengkapnya adalah Atjoem Kasoem. Ia juga dikenal sebagai pejuang yang ikut membela kemerdekaan Indonesia. Ayahnya hanya bekerja sebagai petani.
          Sekolahnya hanya sampai Taman Dewasa Perguruan Taman Siswa. Ia menulai berjualan kacamata dari rumah ke rumah saat di selesai mengikuti kursus dagang. Ia mempunya seorang majikan yang merupakan seorang Jerman yang membuka kacamata di Jalan Braga Bandung. Majikannya itu bernama Kurt Schlosser.
          Karena pendidikannya di Taman Siswa, ia pun terpanggil untuk mengikuti organisasi pergerakan. Ia banyak mengenal banyak  tokoh-tokoh perjuangan pada saat itu misalnya Ir. Soekarno dan Moh. Hatta (ia juga menamai anaknya Mohammad Hatta Kasoem). Melihat kesungguhannya itu, Kurt Shlosser menyarankan agar bersungguh-sungguh dalam saha kacamata agar kelak Kasoem dapat membantu perekonomian bangsanya.
          Oleh majikannya itu, Kasoem diajari tentang pengetahuan optik dan usaha kacamata. Akhirnya ia bisa membuka toko kacamata sendiri di Jalan Pungkur. Itulah toko kacamata pertama yang dibuka oleh orang pribumi. Usahanya yang maju menyebabkan ia banyak memberikan bantuan kepada orang-orang yang aktif di pergerakan dan muali dikenal oleh kalangan tokoh nasioanl.
          Pada jaman Jepnag, Kasoem dapat memiliki toko kacamata di Jalan Braga, Bandung atas bantuan Ki Hajar Dewantara dan Bung Hatta. Namun setelah kemerdekaan, Belanda kembali ingin menguasai Indonesia. Dalam masa revolusi itulah ia ingin ia aktif di Palang Merah Indonesia. Namun ketika terjadi peristiwa Bandung Lautan Api, Kasoem terpaksa mengungsi ke Tasikmalaya. Atas saran Wakil Presiden Indonesia yang pertama yaitu Moh. Hatta, ia membuka toko kacamata di Yogyakarta dan membuka pabrik penggosok kacamata di daerah Klaten.
          Setelah pengkuan kedaulatan, Kasoem kembali ke Bandung. Namun toko kacamatanya di Jalan Braga, Bandung sudah dikuasai oleh orang Cina. Kasoem berusaha merebutnya kembali melalui pengadilan dan akhirnya berhasil mendapatkan kembali toko kacamata tersebut. Tahun 1955, ia membuka kembali toko kacamata itu dan membuka jaringan di berbagai daerah.
Pada tahun 1960, ia berangkat ke Jerman karena ia merasa tidak puas dengan keahliannya. Disana ia belajar optik dan magang di pabrik milik Dr. Herman Gebest. Karena kesungguahannya untuk belajar optik, akhirnya ia mampu menguasai ilmu pembuatan kacamata baik secara teoretis maupun secara praktis. Setelah itu, ia kembali pulang menuju tanah air. Dengan mendapatkan bantuan modal dari bank, pada tahun 1970 ia mendirikan pabrik optik pertama di Indonesia. Namun setelah terjadi krisi ekonomi pada tahun 1997, pabrik ini mengalami sebuah kebangkrutan.
Kasoem meninggal di Bandung tanggal 11 Juni tahun 1979. Usaha bisnis kacamata, diteruskan oleh delapan putra-putri serta cucu-cucunya dengan menggunakan merk dagang yang berbeda dan bermacam-macam. Diantaranya A Kasoem, PT Kasoem, Lily Kasoem dan Cobra yang tersebar di berbagai kota-kota besar seperti di Jakarta, Bandung, Solo, Yogyakarta, Cirebon, dan berbagai kota di luar pulau Jawa. 

0 komentar:

Posting Komentar