Sunday, April 17, 2011

Babad Limbangan

       Naskah babad Limbangan mempergunakan huruf bahasa Arab Pegon dalam bahasa Sunda. Penulis naskah ini tidak diketahui. Namun dilihat dari bentuknya seperti yang diterangkan dalam buku Naskah Sunda Lama Kelompok Babad yang ditulis dan disusun oleh Edi. S Ekadjatidan kawan-kawan dan diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud pada tahun 1985.

Naskah ini berukuran 23x25 cm dan ditulis pada kertas putih bergaris.

       Naskah ini ditulis dalam bentuk prosa dan mengisahkan tentang asal-usul penguasa Limabangan dan nama-nama tempat disekitar daerah Garut. Dikisahkan bahwa Prabu Siliwangi yaitu seorang dari kerajaan Pajajaran suatu hari memerintahkan Aki Haruman untuk berburu. Alih-alih mendapatkan hewan buruan, ia malah menemukan cahaya dari atas gunung. Setelah diselidiki, ternyata cahaya itu berasal dari Nyi Putri Limbangan yang sedang mandi. Penemuan itu langsung dilaporkan oleh Aki Haruman kepada Prabu Siliwangi. Mendengar laporan dari Aki Haruman bahwa putrid tersebut memiliki paras yang cantik,Prabu Siliwangi berniat untuk melamar Nyi Putri Limbangan dan memberi sebutan gunung tersebut dengan sebutan Gunung Haruman.
       Awalnya lamaran Prabu Siliwangi ditolak oleh Nyi Putri Limbangan, namun karena bujukan dari ayahnya yang bernama Sunan Rumenggong, akhirnya diterima juga lamaran dari Prabu Siliwangi. Dari perkawinan tersebut melahirkan dua orang anak laki-laki, yaitu Basudewa dan Liman Sanjaya. Basudewa dijadikan sebagai penguasa Limbangan dan Liman Sanjaya dijadikan sebagai Penguasa Dayeuhluhur.
       Pada suatu hari, Prabu Siliwangi mengirimkan dua orang putri untuk dijadikan isteri anak-anaknya dengan menggunakan tandu. Putri yang satu berparas cantik dan dibawa dengan menggunakan tandu yang jelek dan yang satu lagi berparas biasa-biasa saja dan dibawa dengan tandu yang bagus rombongan yang membawa kedua putri tersebut pertama-tama datang ke Limbangan dan Prabu Basudewa memilih putri yang menggunakan tandu yang bagus. Sementara itu putri yang dibawa dengan menggunakan tandu yang jelek dibawa ke Dayeuhluhur
       Prabu Basudewa menyesal telah memilih tandu yang bagus yang diisi oleh putri yang berparas biasa-biasa. Dalam suatu perburuan bersama dengan saudaranya yaitu Liman Sanjaya, Prabu Basudewa meminta untuk menukar isteri-isterinya. Prabu Liman pun meyetujinya. Namun perbincangan antara Prabu Basudewa dan Liman Jaya didengar oleh isteri Liman Sanjaya. Karena tidak mau diperistri oleh Prabu Basudewa, isteri Liman Sanjaya lebih memilih untuk melarikan diri.
       Setelah dicari-cari, Liman Sanjaya akhirnya menemukan isterinya dan ia pun berjanji tidak akan menukarkannya dengan isteri Prabu Basudewa. Dalam penggembaraan selanjutnya, Liman Sanjaya dan isterinya tiba di sebuah hutan yang sangat strategis untuk didiami. Hutan itu dijaga oleh lelaki tua kiriman para dewa. Setelah mengetahui bahwa Liman Sanjaya dan isterinya adalah calon penghuni hutan itu, akhirnya lelaki tua itu menghilang entah kemana. Kelak hutan itu berkembang menjadi sebuah negara yang dikenal dengan nama Dayeuh Manggung. Selain Liman Sanjaya, raja Dayeuh Manggung lainnya yang terkenal yaitu Sunan Ranggalawe. 

0 comments:

Post a Comment